Search

Heart Reflection

Words of heart

Aliran rasa, Math Around Us

Berkecimpung dengan matematika adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Sejak masih sekolah sampai sekarang saya suka belajar dan mengerjakan soal matematika. Mengajar matematika juga merupakan suatu pekerjaan yang membuat mata saya berbinar-binar.

Sebenarnya saya sangat bersemangat mengerjakan tantangan game level 6, Math Around Us, ini. Cuman karena anak kami masih umur 4 bulan, saya lumayan kebingungan juga melaksanakan tantangan ini. Selama ini di dalam otak saya baru ada rencana kurikulum belajar matematika jika anak saya sudah berumur satu tahun ke atas.

Bismillah, selama sepuluh hari ini saya mulai mengenalkan sedikit demi sedikit dunia matematika kepada Tiara walaupun masih terbatas satu arah. Mulai dari stimulus kemampuan visualnya dengan memperhatikan lingkungan sekitar sambil belajar bentuk benda, belajar matematika lewat lagu, mengenal warna, menghitung jumlah anggota tubuh, sampai dengan menjelaskan beda antara konsep lama dan sebentar.

Alhamdulillah dapat tantangan ini saat Tiara masih bayi. InsyaAllah tantangan ini jadi permulaan yang baik untuk membuat Tiara tertarik dengan matematika

Advertisements

Give and Given

Suatu kali Mba Erli, Leader IP Kota Batam, pernah membagikan notulensi “Enrichment Program” dengan bu Septi di grup member Ibu Profesional Batam. Saya tersentuh saat pertama kali membaca quotes  berikut ini di dalam notulensi tersebut

Dalam kehidupan tak ada rumus “take and give” yang ada adalah “give and given”. Berbagilah, maka kita akan diberi oleh Dia yang maha Memberi” (Ibu Septi Wulandani)

Menurut saya quotes tersebut bagus sekali dan akan sangat luar biasa efeknya jika diamalkan oleh semua orang.  Setidaknya saya sendiri sudah merasakannya. Selama 6 bulan menjalankan amanah sebagai PJ QLC IP Batam, saya merasakan banyak sekali efek positifnya bagi saya pribadi. Setiap program yang saya niatkan manfaatnya untuk orang banyak, ternyata juga memberikan manfaat yang banyak untuk saya sendiri.

Contohnya ketika kemarin IP Batam mengadakan acara Bedah Buku “Agar Sehafal Alfatihah” yang mana saya menjadi PJ nya. Persiapan acaranya bertepatan dengan hari-hari terakhir di masa cuti melahirkan saya. Sebenarnya sempat terbesit di hati saya untuk menolak menjadi PJ agar saya bisa menikmati hari hari terakhir cuti dengan tenang bersama keluarga. Namun saya kuatkan hati untuk mengambil amanah itu dengan harapan agar bisa menebar virus menghafal Al-qur’an kepada akhwat dan ummahat di Batam. Alhamdulillah acaranya berlangsung dengan baik dan InsyaAllah akan di follow up beberapa saat lagi.

Saya mendapatkan manfaat yang banyak dari acara tersebut. Setelah acara bedah buku itu saya jadi rutin menambah hafalan setiap hari. Padahal selama beberapa tahun ini, semenjak di Batam, kebiasaan itu sulit saya lakukan. Mungkin jika tidak jadi panitia, saya belum tentu bisa hadir acara tersebut dan merasakan manfaatnya.

Saya setuju sekali dengan rumus di Quotes tersebut “Berbagilah maka kita akan diberi oleh Dia yang maha Memberi”

For you dear our (soon to be) daughter

Assalamualaikum, Nak

Apa kabar di dalam sana? Adakah kamu merasa nyaman 36 minggu ini berada di perut ibu?

Sudah lama sebenarnya ibu ingin menyapa lewat tulisan… Tapi sepertinya harus ada yang memaksa dulu baru niat ini bisa terealisasi. Kali ini ibu sengaja menulis karena ada tugas arisan Rumbel Menulis IIP Batam 😀

Nak, sungguh kami sudah tidak sabar ingin segera berjumpa denganmu. Ingin segera merasakan genggaman tanganmu dan suara tangismu. Selama ini setiap bulan, waktu berkunjung ke dokter untuk melihat mu lewat monitor dan print an USG sudah sangat membuat kami sangat bahagia. Merasakan gerakan dan tendangan-tendangan mu di perut ibu membuat ibu (dan ayah) selalu tersenyum bahagia.  Tak terbayang bagaimana rasanya nanti saat kita benar benar berjumpa.

Nak, hampir sembilan bulan ibu mengandungmu. Alhamdulillah sampai sekarang Allah mudahkan kehamilan ibu tanpa banyak masalah. Kamu harus tahu nak, ibu merasa beruntung sekali punya ayahmu disamping ibu. Semua kemudahan yang ibu rasakan, ada peran ayahmu. Ketika di awal awal membersamaimu ibu tidak nafsu makan dan sering muntah, ayahmu yang senantiasa mengusahakan makanan terbaik agar ibu mau makan. Ayahmu yang selalu menguatkan ibu ketika badan ini terasa sangat lemas. Ayahmu yang mengambil alih semua pekerjaan rumah ditengah lelahnya beliau bekerja. Kita beruntung memiliki beliau, nak 🙂

Nak, siapa orang tua kita adalah takdir mubram. Sesuatu yang sudah Allah tetapkan sebelum kita lahir. Ada ikut campur Allah yang sangat kuat dalam menyatukan kita sebagai satu keluarga. Kami dipilih Allah menjadi orang tuamu, dan kamu dipilih Allah menjadi buah hati kami. Dan keputusan Allah pastinya sangat sempurna, ada rencana besar Allah ketika mempersatukan kita dalam satu keluarga. Insyaallah beraama kita akan jadi keluarga yang hebat (aamiin)

Maafkan kami jika kelak kau mendapati kami jauh dari sempurna. Tapi insyaallah, nak kami selalu mengusahakan yang terbaik bagimu. Tak henti setiap hari kami belajar bagaimana bisa menjalankan amanah sebagai ortu dengan sebaik baiknya. Agar kami mampu, dengan bantuan Allah, membimbingmu ke jalan para muhsinin.

Nak, perlu kamu tahu bahwa kami sangat menyayangimu. Bahkan sebelum hadirmu di dunia ini. Ingatkan kami kelak jika kamu tak merasakan kasih sayang itu. Mungkin saat itu kami terlalu berambisi mempersiapkan mu menjadi salah satu manusia terbaik sehingga kami lupa memperhatikan kebahagiaanmu serta lupa menyertakan sentuhan kasih sayang.

Terimakasih, nak… sudah hadir dan menjadi amanah bagi kami. Insyaallah kami akan senantiasa berusaha menjadi orang tua terbaik bagimu. Cepat lahir ya, nak! 🙂

I miss “reading a lot”

images2

Source: Google

Aktivitas Me Time saya paling favorit dari dulu sampai sekarang adalah Membaca.

Saya hobi membaca buku semenjak balita. Tepatnya semenjak pandai membaca dan difasilitasi berlangganan Majalah Bobo oleh orang tua. Semenjak itulah buku apa saja saya baca.

Waktu masih sekolah dasar, semua buku pegangan dari semua pelajaran yang ada bacaannya saya lahap hanya beberapa saat setelah buku itu ada di tangan saya. Buku PKN, agama, B.Indonesia, Budaya Adat Minangkabau, IPA, IPS selesai saya baca sebelum waktunya.

Buku-buku cerita di perpustakaan pun sebagian besar pernah saya bawa pulang untuk dibaca.

Kala liburan semester tiba, waktu yang saya tunggu-tunggu adalah ke perpustakaan umum untuk pinjam buku. Disana banyak sekali buku-buku bagus yang tidak ada di perpustakaan sekolah. Saya dan kakak hanya diperbolehkan kesana saat libur karena papa takut kebanyakan baca buku selain buku pelajaran bisa mengganggu konsentrasi belajar kami.

Dengan uang saku yang terbatas, waktu masih sekolah saya jarang sekali beli buku diluar buku pelajaran. Kecuali tadi, Majalah Bobo yang memang dibelikan papa. Beli buku hanya ketika ada uang lebih seperti uang THR atau pemberian saudara.

Maka ketika kuliah dulu, salah satu alasan utama saya semangat ngajar privat adalah agar bisa beli buku yang saya mau sepuasnya. Apalagi di dekat kampus banyak toko buku keren yang buku-bukunya sangat menggiurkan untuk dibeli dan dibaca. Masa-masa itu dalam sebulan saya bisa baca sampai 20 buku.

Di Batam toko buku sangat terbatas. Jadilah semenjak pindah dan kerja disini kebanyakan beli buku lewat online.

Tapi, sepertinya sejak bekerja sambil ngelola Bimbel, semakin hari semakin banyak tumpukan buku yang belum saya baca. Beli buku jalan terus, tapi frekuensi saya baca buku semakin hari semakin berkurang. Kalaupun baca buku biasanya karena ada tugas kantor yang butuh referensi, tugas resume buku, atau memang lagi butuh baca buku itu.

Tiap kali membuka lemari buku selalu timbul rasa sedih dan bersalah melihat buku-buku yang belum selesai atau belum sama sekali saya baca. Pertanyaan “Kapan ya buku-buku ini bisa aku baca?” sering sekali saya tanyakan pada diri sendiri.

Mungkin manajemen waktu saya harus diperbaiki lagi. Terutama aktivitas pencuri waktu “Gadget Time” harus saya evaluasi dan efektifkan lagi. Supaya saya bisa merasakan kembali “me time” untuk baca banyak buku.

Terimakasih Rumbel Menulis IIP Batam dan mba Ovi. Challenge menulis kali ini menyadarkan saya tentang me time yang harus kembali saya perjuangkan.

Forum Komunikasi Keluarga Kami #10

Forum Komunikasi Keluarga Kami #9

Forum Komunikasi Keluarga Kami #8

Tetiba malam ini saat sedang  beres-beres saya ingat bahwa kurang lebih seminggu lagi abang genap berumur 32 Tahun.  Ini milad pertama abang setelah menikah. Dari sekian banyak persamaan kami, salah satunya adalah bagi kami hari ulang tahun itu bukan sesuatu yang spesial.  Dari jarak jauh (saya di kamar, abang di luar) saya ajak abang ngobrol

Saya     : Wah, sebentar lagi abang ulang tahun yaa

Abang  : eh iya

Saya    : Tapi kita gak ngerayain hari ulang tahun kan abang?

Abang : Ho oh, itu kan budaya barat. Dan tidak ada dicontohkan Rasul

Saya    : Iya sih abang, kita do’a aja ya semoga usia abang berkah seperti do’a do’a hdi hari lainnya.

Abang : Iya sayang..

Begitulah percakapan kami tentang ulang tahun, tegas lugas tanpa “baper-baperan”.

Tapi ada satu hal yang saya baru sadar bahwa kami berkomunikasi tanpa tatap muka, kurang intensitas kontak mata.  Walaupun komunikasi kami berjalan lancar, tapi tetap harus diusahakan “the intensity of eye contact” nya.

 

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Forum Komunikasi Keluarga Kami #7

DSC_0568
Dari awal menikah saya membiasakan diri untuk tidak sungkan-sungkan mengucapkan pujian dan rasa sayang kepada pasangan. Agak berat memang, karena saya dan abang berasal dari keluarga yang tidak membiasakan hal ini.

Awal-awal terasa “awkward”, tapi seiring berjalannya waktu kebiasaan ini sudah melekat pada kami berdua, menambah kehangatan keluarga kami.

Seperti hari ini, abang membuatkan saya jus melon+mangga untuk dibawa ke kantor. Jusnya enak sekalii… Tanpa pikir panjang, begitu jus nya habis saya langsung chat abang mengucapkan terima kasih.

IMG-20171121-WA0013

Ada perasaan bahagia tersendiri mengucapkan pujian kepada pasangan. Apalagi kalau pasangan merespon positif.

Menurut saya ini salah satu bentuk komunikasi produktif dalam keluarga, bagaimana kita secara jujur dan terang-terangan menyampaikan apa yang kita rasakan. Agar setiap anggota keluarga mengetahui isi hati sesungguhnya masing-masing anggota keluarga lainnya. Jika sayang sampaikan, jika dibantu sampaikan terima kasih, jika salah minta maaf.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Forum Komunikasi Keluarga Kami #6

Rutin setiap ahad, saya dan abang ada jadwal pengajian pekanan. Tentunya dalam grup yang berbeda. 

Hari ini jadwal pengajian saya lebih duluan dari abang. Rencananya pagi abang antar dulu, nanti saya pulangnya diantar teman atau minta tolong jemput tante karena di jadwal saya selesai jam 09.30 sedangkan abang mulai jam 09.30.

Pukul 09.15 pengajian saya sudah hampir ditutup. Segera saya chat abang agar nanti pas acara selesai sekitar 09.22, abang sudah datang dan bisa ngantar pulang dulu sebelum beliau pergi pengajian. 

Ternyata perhitungan saya sedikit meleset, masih ada acara lain setelah itu. Saya mulai was-was takut abang kelamaan nunggu dan saya juga tahu abang paling tidak suka telat. Pukul 09.30 masuk chat dari abang minta saya bersegera. 

Dengan sungkan, akhirnya saya minta izin pulang duluan ke ustadzahnya. Menjelaskan kalau suami sudah menunggu di luar. 

Di perjalananan saya minta maaf sudah membuat abang menunggu sedikit lama dan membuat abang telat datang ke pengajiannya. Abang dengan berterus terang juga bilang kalau beliau memang sudah telat, ustad nya sudah datang. Lain kali jangan buat abang telat lagi. 

Nah, saya lebih suka cara seperti ini. Berterus terang memberi tahu kesalahan walaupun kurang mengenakkan, daripada memendamnya sehingga timbul rasa kesal. 

Demikian laporan Komunikasi Produktif kami hari ini 🙂

#hari6
#gamelevel1

#tantangan10hari

#KomunikasiProduktif

#KuliahBunsayIIP

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑