Search

Heart Reflection

Words of heart

For you dear our (soon to be) daughter

Assalamualaikum, Nak

Apa kabar di dalam sana? Adakah kamu merasa nyaman 36 minggu ini berada di perut ibu?

Sudah lama sebenarnya ibu ingin menyapa lewat tulisan… Tapi sepertinya harus ada yang memaksa dulu baru niat ini bisa terealisasi. Kali ini ibu sengaja menulis karena ada tugas arisan Rumbel Menulis IIP Batam ūüėÄ

Nak, sungguh kami sudah tidak sabar ingin segera berjumpa denganmu. Ingin segera merasakan genggaman tanganmu dan suara tangismu. Selama ini setiap bulan, waktu berkunjung ke dokter untuk melihat mu lewat monitor dan print an USG sudah sangat membuat kami sangat bahagia. Merasakan gerakan dan tendangan-tendangan mu di perut ibu membuat ibu (dan ayah) selalu tersenyum bahagia.  Tak terbayang bagaimana rasanya nanti saat kita benar benar berjumpa.

Nak, hampir sembilan bulan ibu mengandungmu. Alhamdulillah sampai sekarang Allah mudahkan kehamilan ibu tanpa banyak masalah. Kamu harus tahu nak, ibu merasa beruntung sekali punya ayahmu disamping ibu. Semua kemudahan yang ibu rasakan, ada peran ayahmu. Ketika di awal awal membersamaimu ibu tidak nafsu makan dan sering muntah, ayahmu yang senantiasa mengusahakan makanan terbaik agar ibu mau makan. Ayahmu yang selalu menguatkan ibu ketika badan ini terasa sangat lemas. Ayahmu yang mengambil alih semua pekerjaan rumah ditengah lelahnya beliau bekerja. Kita beruntung memiliki beliau, nak ūüôā

Nak, siapa orang tua kita adalah takdir mubram. Sesuatu yang sudah Allah tetapkan sebelum kita lahir. Ada ikut campur Allah yang sangat kuat dalam menyatukan kita sebagai satu keluarga. Kami dipilih Allah menjadi orang tuamu, dan kamu dipilih Allah menjadi buah hati kami. Dan keputusan Allah pastinya sangat sempurna, ada rencana besar Allah ketika mempersatukan kita dalam satu keluarga. Insyaallah beraama kita akan jadi keluarga yang hebat (aamiin)

Maafkan kami jika kelak kau mendapati kami jauh dari sempurna. Tapi insyaallah, nak kami selalu mengusahakan yang terbaik bagimu. Tak henti setiap hari kami belajar bagaimana bisa menjalankan amanah sebagai ortu dengan sebaik baiknya. Agar kami mampu, dengan bantuan Allah, membimbingmu ke jalan para muhsinin.

Nak, perlu kamu tahu bahwa kami sangat menyayangimu. Bahkan sebelum hadirmu di dunia ini. Ingatkan kami kelak jika kamu tak merasakan kasih sayang itu. Mungkin saat itu kami terlalu berambisi mempersiapkan mu menjadi salah satu manusia terbaik sehingga kami lupa memperhatikan kebahagiaanmu serta lupa menyertakan sentuhan kasih sayang.

Terimakasih, nak… sudah hadir dan menjadi amanah bagi kami. Insyaallah kami akan senantiasa berusaha menjadi orang tua terbaik bagimu. Cepat lahir ya, nak! ūüôā

Advertisements

I miss “reading a lot”

images2

Source: Google

Aktivitas Me Time saya paling favorit dari dulu sampai sekarang adalah Membaca.

Saya hobi membaca buku semenjak balita. Tepatnya semenjak pandai membaca dan difasilitasi berlangganan Majalah Bobo oleh orang tua. Semenjak itulah buku apa saja saya baca.

Waktu masih sekolah dasar, semua buku pegangan dari semua pelajaran yang ada bacaannya saya lahap hanya beberapa saat setelah buku itu ada di tangan saya. Buku PKN, agama, B.Indonesia, Budaya Adat Minangkabau, IPA, IPS selesai saya baca sebelum waktunya.

Buku-buku cerita di perpustakaan pun sebagian besar pernah saya bawa pulang untuk dibaca.

Kala liburan semester tiba, waktu yang saya tunggu-tunggu adalah ke perpustakaan umum untuk pinjam buku. Disana banyak sekali buku-buku bagus yang tidak ada di perpustakaan sekolah. Saya dan kakak hanya diperbolehkan kesana saat libur karena papa takut kebanyakan baca buku selain buku pelajaran bisa mengganggu konsentrasi belajar kami.

Dengan uang saku yang terbatas, waktu masih sekolah saya jarang sekali beli buku diluar buku pelajaran. Kecuali tadi, Majalah Bobo yang memang dibelikan papa. Beli buku hanya ketika ada uang lebih seperti uang THR atau pemberian saudara.

Maka ketika kuliah dulu, salah satu alasan utama saya semangat ngajar privat adalah agar bisa beli buku yang saya mau sepuasnya. Apalagi di dekat kampus banyak toko buku keren yang buku-bukunya sangat menggiurkan untuk dibeli dan dibaca. Masa-masa itu dalam sebulan saya bisa baca sampai 20 buku.

Di Batam toko buku sangat terbatas. Jadilah semenjak pindah dan kerja disini kebanyakan beli buku lewat online.

Tapi, sepertinya sejak bekerja sambil ngelola Bimbel, semakin hari semakin banyak tumpukan buku yang belum saya baca. Beli buku jalan terus, tapi frekuensi saya baca buku semakin hari semakin berkurang. Kalaupun baca buku biasanya karena ada tugas kantor yang butuh referensi, tugas resume buku, atau memang lagi butuh baca buku itu.

Tiap kali membuka lemari buku selalu timbul rasa sedih dan bersalah melihat buku-buku yang belum selesai atau belum sama sekali saya baca. Pertanyaan “Kapan ya buku-buku ini bisa aku baca?” sering sekali saya tanyakan pada diri sendiri.

Mungkin manajemen waktu saya harus diperbaiki lagi. Terutama aktivitas pencuri waktu “Gadget Time” harus saya evaluasi dan efektifkan lagi. Supaya saya bisa merasakan kembali “me time” untuk baca banyak buku.

Terimakasih Rumbel Menulis IIP Batam dan mba Ovi. Challenge menulis kali ini menyadarkan saya tentang me time yang harus kembali saya perjuangkan.

Forum Komunikasi Keluarga Kami #10

Forum Komunikasi Keluarga Kami #9

Forum Komunikasi Keluarga Kami #8

Tetiba malam ini saat sedang  beres-beres saya ingat bahwa kurang lebih seminggu lagi abang genap berumur 32 Tahun.  Ini milad pertama abang setelah menikah. Dari sekian banyak persamaan kami, salah satunya adalah bagi kami hari ulang tahun itu bukan sesuatu yang spesial.  Dari jarak jauh (saya di kamar, abang di luar) saya ajak abang ngobrol

Saya     : Wah, sebentar lagi abang ulang tahun yaa

Abang  : eh iya

Saya    : Tapi kita gak ngerayain hari ulang tahun kan abang?

Abang : Ho oh, itu kan budaya barat. Dan tidak ada dicontohkan Rasul

Saya¬† ¬† : Iya sih abang, kita do’a aja ya semoga usia abang berkah seperti do’a do’a hdi hari lainnya.

Abang : Iya sayang..

Begitulah percakapan kami tentang ulang tahun, tegas lugas tanpa “baper-baperan”.

Tapi ada satu hal yang saya baru sadar bahwa kami berkomunikasi tanpa tatap muka, kurang intensitas kontak mata.¬† Walaupun komunikasi kami berjalan lancar, tapi tetap harus diusahakan “the intensity of eye contact” nya.

 

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Forum Komunikasi Keluarga Kami #7

DSC_0568
Dari awal menikah saya membiasakan diri untuk tidak sungkan-sungkan mengucapkan pujian dan rasa sayang kepada pasangan. Agak berat memang, karena saya dan abang berasal dari keluarga yang tidak membiasakan hal ini.

Awal-awal terasa “awkward”, tapi seiring berjalannya waktu kebiasaan ini sudah melekat pada kami berdua, menambah kehangatan keluarga kami.

Seperti hari ini, abang membuatkan saya jus melon+mangga untuk dibawa ke kantor. Jusnya enak sekalii… Tanpa pikir panjang, begitu jus nya habis saya langsung chat abang mengucapkan terima kasih.

IMG-20171121-WA0013

Ada perasaan bahagia tersendiri mengucapkan pujian kepada pasangan. Apalagi kalau pasangan merespon positif.

Menurut saya ini salah satu bentuk komunikasi produktif dalam keluarga, bagaimana kita secara jujur dan terang-terangan menyampaikan apa yang kita rasakan. Agar setiap anggota keluarga mengetahui isi hati sesungguhnya masing-masing anggota keluarga lainnya. Jika sayang sampaikan, jika dibantu sampaikan terima kasih, jika salah minta maaf.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Forum Komunikasi Keluarga Kami #6

Rutin setiap ahad, saya dan abang ada jadwal pengajian pekanan. Tentunya dalam grup yang berbeda. 

Hari ini jadwal pengajian saya lebih duluan dari abang. Rencananya pagi abang antar dulu, nanti saya pulangnya diantar teman atau minta tolong jemput tante karena di jadwal saya selesai jam 09.30 sedangkan abang mulai jam 09.30.

Pukul 09.15 pengajian saya sudah hampir ditutup. Segera saya chat abang agar nanti pas acara selesai sekitar 09.22, abang sudah datang dan bisa ngantar pulang dulu sebelum beliau pergi pengajian. 

Ternyata perhitungan saya sedikit meleset, masih ada acara lain setelah itu. Saya mulai was-was takut abang kelamaan nunggu dan saya juga tahu abang paling tidak suka telat. Pukul 09.30 masuk chat dari abang minta saya bersegera. 

Dengan sungkan, akhirnya saya minta izin pulang duluan ke ustadzahnya. Menjelaskan kalau suami sudah menunggu di luar. 

Di perjalananan saya minta maaf sudah membuat abang menunggu sedikit lama dan membuat abang telat datang ke pengajiannya. Abang dengan berterus terang juga bilang kalau beliau memang sudah telat, ustad nya sudah datang. Lain kali jangan buat abang telat lagi. 

Nah, saya lebih suka cara seperti ini. Berterus terang memberi tahu kesalahan walaupun kurang mengenakkan, daripada memendamnya sehingga timbul rasa kesal. 

Demikian laporan Komunikasi Produktif kami hari ini ūüôā

#hari6
#gamelevel1

#tantangan10hari

#KomunikasiProduktif

#KuliahBunsayIIP

Forum Komunikasi Keluarga Kami 5#

Hari ini agak drama. hehe..

Ceritanya saya dan abang sore tadi pergi ke Toko Perlengkapan Bayi dengan motor.
Di tengah perjalanan abang tiba-tiba nanya, “Helmnya mana?”. Ternyata saya lagi-lagi lupa memakai helm.
Walau ada perasaan bersalah saya tetap menjawab dengan ceria, ” Hehe.. Lupa abang..”

Saya mengira abang tidak kesal dan biasa saja dengan masalah ketinggalan helm ini. Kami berangkat sudah menjelang maghrib dimana sangat kecil kemungkinan ada Polisi yang akan menilang.

Sudah menjadi kebiasaan saya mengajak abang ngobrol ketika di motor. Namun, kali ini jawaban abang singkat-singkat dan terkesan seadanya. Saya masih tidak “ngeh” kalau abang kesal karena saya tidak memakai helm. Malahan saya ikut kesal dengan respon abang terhadap pertanyaan-pertanyaan saya, dan akhirnya bertanya “Abang kok jawabannya pendek-pendek, Abang capek ya?”
Abang cuman menggangguk tanpa ekspresi dan itu membuat saya semakin kesal sekaligus sedih. Saya tidak suka berada dalam situasi dimana kami tidak berkomunikasi baik.

Kemudian saya bersuara lagi dengan nada hampir menangis “Kalau abang capek, harusnya tadi bilang biar kita ga usah aja berangkat.”
Saya menahan tangis akibat emosi yang tertahan sepanjang sisa perjalanan. Saat kami mampir sholat maghrib di Mesjid Raya, mata saya berkaca-kaca. Untungnya tidak ketemu satu orangpun yang saya kenal. Kalau tidak, saya akan malu karena ada yang tahu bahwa saya sedang menahan tangis.

Selesai sholat, abang yang juga masih sedikit kesal malah bertanya “Kita mau pulang saja atau jadi ke Tokonya ?”
Rasanya ingin sekali saya ngambek dan minta pulang saja, atau setidaknya diam untuk membalas kekesalan saya pada abang. Tapi untungnya saya masih bisa berfikir jernih, tidak baik berkomunikasi jika hanya untuk saling menyakiti. 

Saya hanya menjawab “terserah abang” dengan nada yang sebisa mungkin saya buat biasa agar tidak memperburuk suasana. Itu jawaban terbaik yang bisa keluar dari mulut saya saat itu.

Abang ternyata tetap membawa kami ke tujuan awal yaitu Toko Perlengkapan Bayi. Di Toko itu, alhamdulillah abang sudah bercakap-cakap seperti biasa. Hal ini juga perlahan menghilangkan emosi tertahan saya tadi.

Setelah dari Toko itu, kami mampir ke acara “Sumatera Barat Ekspo” di Alun-alun Dataran Engku Putri. Alhamdulillah suasana ramai, hangat, dan ceria di acara itu juga membuat perasaan kami berdua membaik. Disinilah saya berinisiatif untuk meng-clear kan masalah tadi. Saya bertanya pada abang “Abang kenapa tadi di motor jawabannya singkat-singkat? Icha sedih sekali kalau abang bersikap seperti itu”
Abang menjawab “Iya, Karena Icha ga pakai helm, jadi abang kesal”

Oalah.. Baru saya sadar kalau ternyata abang kesal karena masalah helm. 

Saya pun meminta maaf  “Maaf ya abang, tadi itu benar benar lupa pakai helm. Icha ngaku salah. Tapi lain kali kalau abang marah, langsung bilang aja masalahnya apa.. Icha ngerasa ga nyaman kali abang diemin gitu. Mending dimarahin daripada didiemin.”

Sepertinya abang benar benar sudah lepas dari kejadian tadi sehingga beliau bisa menjawab dengan penuh senyuman dan kata kata yang menyenangkan. 

Alhamdulillaah clear juga masalah kami. Pelajaran hari ini, kami harus bisa menahan diri untuk berkomunikasi yang bermaksud menyakiti. 

#hari5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

 

 

 

 

 

 

 

Forum Komunikasi Keluarga Kami #4

Setelah beberapa hari merasa kurang enak badan dan menghadapi kontraksi palsu dengan frekuensi tinggi, hari ini dengan berat hati  saya izin tidak masuk kantor memenuhi hak tubuh dan tentunya debay yang ada di perut. Beruntung sekali saya bekerja di tempat yang tidak terlalu strict perihal izin tidak masuk. Cukup dengan mengirim pesan singkat lewat WA ke atasan, seketika itu juga izin langsung keluar :).

Istirahat ini pun semakin menyenangkan karena hari ini abang berangkat ngajar sore jadi saya sama sekali tidak merasa kesepian di rumah.

Saya ingat besok pagi ada jadwal pertemuan perdana Rumbel Al-Qur’an IIP Batam yang mana saya jadi PJ nya. Karena belum izin sama abang, tadi sebelum abang berangkat ngajar saya bilang.

Namun ternyata tak seperti biasanya. Abang yang selama ini sangat mudah memberikan izin saya berkegiatan, kali ini tidak memberikan izin.
Dengan tegas abang menjawab “tidak usah ikut dulu, Icha kan butuh istirahat.”

Jujur, saya bingung harus bereaksi seperti apa. Di satu sisi saya paham, abang khawatir dengan kondisi saya dan cabang bayi kami. Tapi di sisi lain saya juga merasa sangat tidak bertanggung jawab kalau sampai membatalkan atau tidak hadir acara besok, karena sayalah yang merencanakan semuanya.

Setelah berpikir sejenak, saya ambil keputusan untuk mengiyakan dulu kata-kata abang. Tidak baik rasanya jika mendebat abang sesaat sebelum beliau berangkat. Tentunya ini akan menimbulkan suasana dan perasaan yang tidak nyaman bagi kami berdua.

Malam ini setelah abang pulang ngajar saya membujuk abang, berusaha meyakinkan bahwa insyaAllah saya baik-baik saja dan besok insyaAllah akan lebih baik karena seharian ini sudah istirahat. Sebenarnya saya sudah siap menerima apapun keputusan abang, karena saya yakin beliau hanya ingin yang terbaik bagi saya.

Alhamdulillah keputusan abang bergeser juga walau belum memberikan izin 100%, tapi abang bilang besok boleh ikut kalau perutnya sudah tidak tegang lagi.

Ini cukup membuat saya lega, karena saya yakin insyaAllah besok pagi tidak kontraksi palsu. Bantu ibu ya nak sayang (Ngomong sama dedek di perut ..hehe)

Hari ini saya belajar bahwa “choose the right time”¬† sangat penting dalam berkomunikasi. Jika saya memaksakan diri membujuk abang tadi sore, mungkin hasilnya akan lain karena kami sama-sama dalam emosi yang tidak stabil.¬† Satu lagi, bahwa dalam berkomunikasi kita harus berusaha menerima keputusan yang tidak kita harapkan karena bisa jadi memang itu yang terbaik bagi kita.

#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Blog at WordPress.com.

Up ↑